tukYman

This website suggests a more compatible use Firefox web browser

Welcome

Rift rift has various I skip, but the finger of a desire to work for carnal desire that I want, which is in a virtual world. Cave life in the foreign country to pursue mouthful of rice up to my stomach that is hungry, until now I still get work as a factory that is not only explore feasible worldly lust

About mE

Thank you have visited the website of me ... sorry it seems less well in all your heart, as I write this blog is only the life of the nation and achieve flood my heart, thank you so much Matur. "anything that it's blogging only use Blogspot"

PUISI Alias kata hati

DAUN

Arti kata ini merupakan arti dari sebuah petuah tentang arti kasih sejati , yang akan menghantarkan dalam kedewasaan di esok hari . Daun itu merupakan lambang kasih sejati !!! Karena ” Daun ” bagaikan seorang kekasih !!! yang cintanya tulus tanpa mengharap imbalan , dari orang yang dikasihi .

Duluh daun dijanjikan sebuah keindahan oleh Bunga ??? Daun selalu mencurahkan semuah sari – sarinya agar bunga bisa mekar , mewangi , dan memberikan buah yang manis untuk disajikan pada kehidupan .

” Daun berusaha menepati janji Bunga ” , menggumpulkan sari – sarinya dari alam . Disaat siang !!! ” Daun menantang teriknya Sang Mentari yang panas dan membakar , tetapi selalu hijau ” . Disaat malam !!! ” Daun melawan dinginya embun , dan kerasnya terpaan angin , tetapi tetap tegar bak Mahkota Raja ” . Disaat pagi !!! ” Daun mencurahkan tetesan Embun pada Aakar – akarnya yang letih menanti hujan ” .

Namu disaat Bunga berkembang , dan menjadi buah ” Daun ” berguguran jatuh tersunkur ketanah yang tak lagi hijau . Mana janji Bunga akan membahagikan , dan mana kesetian Bunga disaat Daun telah menepati “dengan mencurahkan sari – sarinya” .

Kini Daun tak ada aratinya !!! Tersungkur ketanah tak lagi hijau , kotor , dan melayang – layang diterpa badai . Kini Bunga sangatlah berarti !!! Menyajikan buah yang manis pada kehidupan disanjung , dipuji , dan dikasihi .

Aku adalah ” Daun ” itu , dan Kekasih ku adalah ” Bunga ” itu . Di dalam keheningan malam nan sepi ” aku ” hanya mampu terdiam menunggu ” Kekasih ” dari rasa lelah - Nya mengejar cinta . Di ujung esok nan cerah berharap ” Naluri rindu “ bisa terobati , dan entah sampai kapan lagi harus menunggu .

Perna kamu berjanji padaku akan selalu menemani merajut hari esok berdua , sampai kini kamu pergi mengehilang entah kemana ??? Aku akan selalu setia menunggu hingga kamu kembali dalam pelukanku meski tak perna ada harap .

Aku memang bodoh terlalu sayang padamu , tetapi mengapa aku harus mengenalmu jika semua ini akan menyakitkanku . Andai saja aku tau jadi seperti ini tak ingin jatu hati padamu , meski sesalku tak akan ada guna lagi . Mencintai , menyayangi , dan memiliki mu merupakan suatu hal yang sangat berat bagi ku untuk mengapai hati mu .

Jika kita meski berpisah aku tak ingin seperti ini berakhir tanpa alasan , dan menghilang begitu saja ??? ” tau kah kau kasih aku menunggumu ” .

CINTA DAN SAHABAT

Dahulu ada kisah !!! ” cinta dan sahabat ” yang sama – sama berjalan mengapai sebuah impian kehidupaan . 2 anak manusia ini saling berjanji satu sama lainnya , untuk selalu bersama dalam suka dan duka .

Mereka berjalan dikeheninggan malam dimana kabut mengaburkan padanga ke 2 anak manusia itu , akan tetapi mereka tetap bergandengan tangan agar tak terpisakan . Lalu ” cinta ” terjatu dalam sungai yang deras , dan ” sahabat ” mencoba untuk menolongnya tetapi cinta telah hilang terbawah arus sungai .

Sahabat berenang disekeliling sungai , karena apa ??? ” Sahabat ” adalah sebuah kesetian yang tak terpisakan dengan apapun meski harus mempertarukan jiwa dan raganya demi seorang cinta . Karena sahabat selalu ada dalam suka dan duka yang pemikiranya sebuah pengajaran terbaik untuk selalu membenarkan dari setiap kesalahan kita .

Cinta terhanyut dari derasanya sungai , karena apa ??? ” Cinta ” adalah kasih sayang yang muda hilang jika kita tak pandai untuk menjaganya . Karena cinta merupakan sebuah ” Anugra terindah ” dari kehidupan dimana kasih itu mampu membuai kita , dan melakukan hal – hal yang bodoh jika tak mampu untuk mengendalikannya .

Cinta dan Sahabat akan jadi mulia tak terpisahkan oleh apapun kekal sampai akhir zaman , jika kita tau menempatkan diri dalam bagiannya . Kisah dari ” CINTA dan SAHABAT ” merupakan sebuah pengajaran bagi diriku dimana aku harus memilih diantaranya !!! Jika aku memilih cinta . ” Aku akan kehilangan dia untuk selamanya ” , jika aku memilih sahabat . ” Aku akan tetap mengenal dia sampai kapanpun Karena aku ingin selalu menemaninya dalam kehidupan meski menjadi teman sejati dimana cinta tak perna meninggalkanku lagi

“Lamunan Kosong”

Segelas kopi

Berhiaskan Air liur di mulut Gelas

Malam Pun tiba

Segenap hati aku menulisnya

Coretan yang ak berbekas

Sebatas Senyum

Dari Aku yang nerindukanmu “Ibu”

Lamuna demi lamunan

Aku berhayal

Demi engkau aku bertahan

Akan aku tunjukan kepada

Dunia Bahwa aku “Teguh Imam Hariadi”

Yang Bisa Engkau Banggakan Kamu “Ibu”

“Sastra yang Tidur dalam Kulkas”Oleh
SAUT SITUMORANG*

”Aku tidur di depan sebuah kulkas. Suaranya berdengung seperti kaus kakiku di siang hari yang terik. Di dalam kulkas itu ada sebuah negara yang sibuk dengan jas, dasi, dan mengurus makanan anjing. Sejak ia berdusta, aku tak pernah memikirkannya lagi.”

*Saut Situmorang, penyair dan esais, tinggal di Jogjakarta

“Ada yang Menamparnampar Kesadaranku”

kutelusuri trotoar resah pada kotamu.
mencari jejak purba pada malam kosong,
dimana tak ada lagi dzikir cengkrik yang meminta
cahaya. jalanan lengang, menyimpan kelelahan,
sehabis disetubuhi rodaroda besi, sehabis baitbait
puisi dibakar aspal dan matahari, sehabis cerita
tentang darah dan airmata.

pada persimpangan yang menyimpan namamu,
helaian rindu terbang dibawa angin taufan rasa
cemas. menerbangkan debudebu gelisah pada
langit cinta yang tak lagi biru, sebab tak ada lagi
setangkai mawar mekar hari ini.

lampu merkuri menatap kosong harapan beraspal
yang sudah banyak menyimpan lubang putus asa.
sedang cahaya bulan masih sendu, sebab langit
menangisi seorang anak yang tak ingat jalan pulang.

ada yang menamparnampar kesadaranku,
saat hari menjelang pagi. fajar yang mengusir
cahaya bulan dan lampu merkuri sepanjang jalan
rindu dibentangkan, memaksaku menemukan
jejakmu yang hilang pada malammalam kosong.
dimana tak ada lagi dzikir ilalang, sebab tak ada
tanah yang tumbuh pada kota dalam batinmu

“ada yang tersisa, mungkin terlupa “

walau bisaku
cuma menikah dengan bayangmu
boleh kubertanya padamu
“gaun pengantin warna apa yang kau sukai”
sebab bila kupakai gaun pengantin berwarna putih
aku takut kau tak mengenaliku
bukankah pernikahan kita nanti dibalik kabut

dan jika kabut itu jumud
dengan gaun dan renda putihmu
akankah kuragukan hangat tubuhmu
jangan pernah takut pada bayang
bayang bulan yang tenggelam
di dasar kolam, manis

dan pahit adalah tanda
bahwa jiwa-jiwa hanya cerita
jika tak ditadah dalam gelas
gelas kristal penjual teh
dekat perkemahan alkemia
buka dan regukalah aku
kemuliaan yang tersisa

ada darah yang luluh dari kelopak
mata bukan air mata, sebab duka
terlalu pekat menjelaga senyum
buramku. bukankah bisa kautangkap?
sering kuharap pelangi
pada malamku tapi itu mimpi
yang kutuang saat aku tak mengantuk
lelah batinku mungkin perih yang ada
dalam hatimu
kita sama
diam
walau dalam diam kita saling merajut
benang kasih yang titik temunya ada
di genggam jemari kita

dan di depan gua
di tubir-tubir jurang pasir
iblis menyemburkan tentangan
kepadaku sang firasat takdir
maka kusebutkan lagi nafas
: jangan engkau cobai
tuanmu ini, Nak Mas
maka pergilah dia dari kakiku

“Aku Ada Untukmu”

Oleh: Teguh_ih

Hadiah terbaik bagiku,
Bukan gantungan bintang dilangit rajutanku.
Bukan juga menariknya anggur merahmu,
Diantara sajian intan ditempat tak berbayang.
Berlarilah kelautan cintaku…
Dekat sebuah kayu bersilang disana,
Dekat diatas rumput yang memerah,
Direndaman jerami dijengkalku.
Sudah… aku sudah merangkainya untukmu,
Sudah juga menangis untukmu.
Diamlah dekatku… karena kau tenang disini…
Bijaklah disaat kebodohan menjadi kegembiraanmu,
Inilah saatnya tepat, sebab malam tak bertanda,
Juga siangnya tak berpamit.
Berjalanlah terus… bukannya sendiri,
Kasihku memegangmu…
Sampai untaian terakhir dipinggiran waktu,
… aku ada untukmu

Batam, waktu malam 31 october tahun yang kedua

Kepada Teguh_ih: “Aku dan Tulisanku”

Adakah orang akan bertanya akan aku ketika aku
tak pernah menulis satu kata?
Adakah orang akan mencari namaku ketika aku
tak pernah meninggalkan kesan?
tulisanku adalah diriku, diriku mustahil adalah tulisanku
jari-jariku bekerja dengan otakku
tapi tidak dengan diriku
diriku adalah kumpulan prilaku potensi dosa
diriku adalah susunan tulang daging darah
yang mungkin telah menyerap barang haram
diriku bukan milikku, lingkunganku telah mengklaimnya
Adakah orang pernah menerima aku berbeda dengan tulisanku?
Berjayalah kalimat-kalimat yang kutulis
sebab mereka mendapat teman dan musuh yang menghormati
ingin aku memasukkan diriku ke dalam tulisanku
harap aku bisa mendapat sapaan hormat yang sama
Tulisanku adalah produksi otakku yang bersahaja
tak dapat bercengkrama dengan prilakuku yang
diproduksi oleh niatku yang subjektif
tulisanku memberi tahu tentang aku ke dunia
sementara aku tak pernah berbuat yang sama
kepada tulisanku….




“Aku ingin menjadi”

Kau merambat naik
menyusuri gundukan rumputnya
Kau angkat bunga-bunga kering itu
menggantikannya dengan yang baru

Kau menangis
seperti akan datang kiamat pagi ini
Seiring nyaring rintihanmu tentang dunia
dan rumah yang selalu kotor, sejak kau malas
menyapu dan berias seperti saat dia bersamamu



“Kau basuh nisannya”

hati-hati, sebab takut kepalanya luka
Lalu beranjak keluar setelah sedikit doa
menuruni perut makam itu, melepasnya
dengan salam penutup dan sebuah janji
Segera menyusul mati

Kau lewat depan tanahku
dengan serapah yang tak pernah lupa, kau lempar
bunga-bunga kering di tanganmu, kelu tanpa selera
memandangku, setidaknya tak ada kiamat pagi ini
Tak ada awan dan hujan di langit yang kau remah
dalam di puting-puting susumu
Dulu aku selalu cemburu
dan ingin membunuh anjing kesayanganmu itu
Tapi sekarang tidak lagi, sekali-kali tidak lagi
Hanya aku ingin sekali seperti dia, menjadi anjing
Cintamu

“Aku meyebut judul ini ….ah tak tau lah…?”

Satu generasi kegenerasi lain
mencari sosok manusia edalam wujud yang makin sempurna
Datang banyak hal asing serta mengagumkan
Bagimanaroh pinda dari satu tubuh ke tubuh lainya\
membuta bahagia sekaligus nelangsa
Carilah jiwa yang tidak bahagia ini,sebab
ketidak hadiran nya di tengah menggelisakan kita
pergilah mencari pujangga dirimu
Biarlah itu menjadi peringatan atas kejeniusannya
Akankah aku dipulikan Agar boleh menhormatinya
Ddan memberikan hormat dengan menghujaninya
Sebagian hadia berharga

“Aku tak bisa berpaling”

getar itu masih terasa
saat jemari kita saling menyentuh
bisa kurasakan adanya rindu yang megah
yang kau kirim lewat hangatnya aliran darahmu

ingin aku berlama-lama dalam kehangatanmu
ingin aku habiskan sisa malam ini dalam nada-nadamu
ingin aku peluk sinar rindu yang terpancar di setiap kedip matamu
ingin ……. semuanya kusimpan di dadaku

suaramu mengantarkanku ke alam lalu
senyumanmu membawaku ke mimpi dulu
tatapanmu menghanyutkanku dalam ilusiku sendiri

ah
seandainya masih mungkin….

tapi…….
aku tak bisa berpaling …..

31 okt 03
*kamu cuma bagian dari cerita masa laluku

“Aku Tak Ingin”

malam
nanti aku datang ke rumah
kubawakan dadamu yang sebelah
biar kubelah juga di atas pangkuanmu

bila kau rasa kurang bunuh tubuh dan jiwaku
dan mintalah segala malaikat melaknatku
mintalah Isrofil datang menjemputku
malam ini dalam keteduhan mimpimu

itu pun kalau Isrofil berani datang
jika tak datang, biar kuejakan do’a arwah
bagiku sendiri
yasin dan ziarah qubur, bagiku sendri
dan jemput aku di luka senyummu

tak lagi
aku ingin mencintaimu

“AKU(chairil)”

Kalau sampai waktuku ‘Ku mau tak seorang ‘kan merayu

Tidak juga kau Tak perlu sedu sedan itu

Aku ini binatang jalang

dari kumpulannya terbuang

Biar peluru menembus kulitku

Aku tetap meradang menerajang
Luka dan bisa kubawa berlari

Berlari Hingga hilang pedih peri

Dan aku akan lebih tidak peduli
Aku mahu hidup seribu tahun lagi

March 1943




“BALADA KOREK API?”
Teguh_ih

Terabaring dalam bilik sempit
Menunggu jadwal eksekusi
Aku hanya sebatang korek api
Yang menangisi bakal kematianku
Menanti
Sendiri
Tak pernah diziarahi
Kalau tiba waktuku nanti
Ketika aku meregang
Ketika wajah sang Syiwa terbakar kodratnya
Aku hanya tinggal batang
Dengan gundul legam
Takkan ada kesaksian
Takkan ada pembelaan



“BATU”

batu mawar
batu langit
batu duka
batu rindu
batu jarum
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji?

Dengan seribu gunung langit tak runtuh dengan seribu perawan
hati tak jatuh dengan seribu sibuk sepi tak mati dengan
seribu beringin ingin tak teduh. Dengan siapa aku mengeluh?
Mengapa jam harus berdenyut sedang darah tak sampai mengapa
gunung harus meletus sedang langit tak sampai mengapa peluk
diketatkan sedang hati tak sampai mengapa tangan melambai se-
dang lambai tak sampai. Kau tahu?

batu risau
batu pukau batu Kau-ku
batu sepi
batu ngilu
batu bisu
kaukah itu
teka
teki
yang
tak menepati janji?

Sutardji Calzoum Bachri, O AMUK KAPAK ,1981





“Benda Bernyawa”

Siapapun mereka
Pasti akan mencintai ku
Sebab aku di ciptakan,
Untuk menghibur hati manusia

Jika dihitung dengan harga
Aku tidaklah mahal
Karena itulah
Aku dapat dinikmati
Oleh segala kalangan maupun usia

Aku selalu setia bermain dengan manusia
Sebab aku
Tercipta dari daya Khayal nya

Untuk itulah,
Aku dinamai
Layang - layang !!!





“berguru pada arcamu”

The five colours blind the eye
The five tones deafen the ear
The five flavours dull the taste
Racing and hunting madden the mind
Precious things lead one astray

Therefore the sage is guided by
by what he feels and not by what he sees
He lets go of that and chooses this
(Lao Tzu, 600 SM)
malam ini291003

lima warna membutakan mata
lima nada menutup telinga
lima rasa merusak selera
perlombaan dan perburuan mempergila benak
barang-barang mewah membuat orang tersesat

maka orang bijak dipandu
diarahkan oleh perasaannya bukan penglihatannya
dia membiarkannya berlalu dan memilihnya





“Biar aku jalani kehidupanku”

Ku cuba terperangkap
Pada jiwa dan ragamu manis
Hadirkan rasa rindu
Dahati ……….Terbayang
Perlahan senyuman itu datang
Perlahan tertawa seseorang itu datang
saat berbagi cinta dengan dirimnu sayang
terpana dan terdiam
dan sadarku kepadamu
Biungkisan cinta…..Anda yang selama ini
Ah………terbayang
Ah ……..Perasanku
Itu hanya kayalan belaka….”…”
Uhk…. terbuai dalam kayalanku
Jnacok “Bangsat”
“Teguh_ih”




“BIAR”


biarkan aku
tertawa dalam mimpiku
bahagia dalam anganku
bermain dengan khayalku
bercinta dengan bayangmu

Bayangmu datang padaku
ketika kelam menjelang
ketika dingin mencekam
ketika sepi merajam
ketika hati remuk redam

Bayangmu datang padaku
dalam pelukan kehangatan
dalam dekapan kelembutan
dalam selimut ketenangan
dalam sentuhan penuh cinta

Bayangmu datang padaku
tanpa wujud nyata
tanpa bisik suara
tanpa harus kupinta
tanpa pernah bertanya

Biarkan aku
sekali terhanyut arus
sekali terkobar murka
sekali terlayang hampa
sekali terlarut rasa

Biarkan aku lepaskan
belenggu yang redam emosi
habis tuntas lembaran lama
sebelum aku melangkah lagi

Teguh_ih
3 Mei 98




“BIARKAN SEMESTA MENERJEMAHKAN KITA”

Biarkan semesta menerjemahkan kesucian bahasa rahasia para nabi dan alkemi dalam bahasa senyum kita, chintami Karena sebait puisi adalah sejarah begitupun senyummu yang cerah Biarkan cakrawala membuat pertanda bagi pengembara menuliskan legenda bunga-bunga dari harapan dan doa Menuntun kita memandang kesabaran air mata yang menjelma batu buana





“bungaku”

Telah kau tutup pintu
ke dalam matamu, saat kaupetik bunga
di tamanku. Akan kubuka nanti pelahan
dan musti kau tebar jala dengan kidmat
daun-daun sengonmu. Bukan kidung
atau tembang penggelar rahasia
Kuberikan semua tanpa cuaca
meski kulaknat diriku

Kaupetik bunga itu
di tamanku. Aku menggelepar tanpa suara
melolong lewat telisik angin tiris gerimis senja
Mungkin kau mengutipnya sebagai kelakar
Membakarnya bersama geliat ulat hatimu
Tapi aku tak berani berharap kau nanti
menjaganya selalu
meski telah kuberikan
ruhku





“cawat fakir”

aku terkapar di pinggiran. menjaga malam
jalan yang lantang, lampu-lampu samin
seperti pemabuk tanpa arak. gantang
gantang kering. retakan-retakan
kepala adalah badai prasangka

aku terhasut suara. bunyi-bunyi lirih
hasrat terus tersesat; misalkan langit
tak meminjamkan dahan kering pada daun
mungkin ranting-rantingku berbuah lebih samun
bunga-bunga segarkan udara dan cuaca cerah
adalah katarak yang tak lengkap. seperti babi
kau cuma satu arah

kau menggetar, menari tiris di atas basah
angin pasah menggiringmu dalam langkah
meremang. seperti surat-surat kawat di sakumu
berharap tuntas sampai ke tunas. seperti rindu
yang kejam menahan jejakmu. aku menggigil
di puncak-puncak kota

menikmati bayanganku pecah di jalan-jalan
dengan tanda-tanda. luka yang kelak menikammu
keangkuhan yang lebih perih dari tubuh tersayat
tiga. tak mau mengantarmu lindap di udara lepas
mata juga yang nanti membuka lagi jalan-jalan
lukamu

biarkan kaki-kaki langit menelanmu, mataku habis
di situ. cawat fakir memperpanjang asap jamban
kau melaju. lingsut di antara suku-suku gunung
aku menunggui alang-alang di kebun depan rumah
yang dikerat sayatan-sayatan tanya






“Cinta Bermusim”

Cinta itu……bermusimkah ?
aku dan sajadah usang itu
menatap hiba memohon restu
mengharap pasrah sebuah keampunan
menagih sendu sekuntum cinta
dari sang Al-Kholiq,lewat dingin subuh

Cinta itu…….bermusimkah ?
aku dan kanvas putih itu
tiba-tiba terheret bersama
mengejar ilmu
bergelung debu-debu
pasiran ilmu di dada bidang kota Kaherah
sedang sajadah tua itu
tergantung lesu di paku kenangan semalam

Cinta itu…….bermusimkah ?
aku dan pesta islami
tanpa moktah terakhir
penuh padu lambang kesatuan jitu
di bawah panji-panji islam
sedangkan lorekan di dada kanvas
bagaikan akan hilang di mamah kealpaan
sedangkan kanvas puith itu
sedangkan cinta itu
pasti hadir lagi bersama musimnya
wajarkah ?
wajarkah cinta itu bermusim ?
Wallahua`lam





"di depan ka’bah"

ingin kubaringkan hati
damai di sini
tapi tercecer
jauh di luar

ingin kupakukan iman
di multazam
agar tak malu aku pada tuhan
menjadi imam
istri dan anak-anak sekalian
tapi betapa imanku rapuh
luruh sebelum tersentuh

aku cuma bisa berputar dan berputar
di sekeliling ka’bah
tak sedikit pun bisa singgah
ya Allah, peganglah hatiku
yang datang dari jauh
beribu-ribu kilometer dari ka’bah
agar sejenak bisa singgah
sekadar melepas lelah baringkan hatiku pada dataran ridla-Mu





“doa lelaki yang tertidur “


sihirmu lebih pekat dari laut

Aku akan menyapamu
jika rambut mampu mengurai waktu yang terlilit
parang rusak di dada dan pinggul ranum itu
Lewat segelas pagi kau seduh matahari
hati-hati. Hingga geletaran seru sekalian alam
jagad kecilku dengan laut pasang menikam mata
dan hari-hariku mengembus senyap nyala lilin
dimainkan angin

dan riak-riak rambutmu yang mulai
mengering kecemasan. Jari-jari nakal
fajar yang tak kenal lelah menjentik kelembaban
nira di sudut-sudut matamu. Kau yang asing
dari mengenal lelahku, rengkuh
dan raba tiap bilur anggur, kering di atas bibir
kalamku, demi segala
mungkin
aku akan mencumbu





“Doa”

kepada pemeluk teguh

Tuhanku
Dalam termangu
Aku masih menyebut namaMu

Biar susah sungguh
mengingat kau penuh seluruh

cayaMu panas suci
tinggal kerlip lilin di kelam sunyi

Tuhanku

aku hilang bentuk
remuk

Tuhanku

aku mengembara di negeri asing

Tuhanku
di pintuMu aku mengetuk
aku tidak bisa berpaling

(13 nov 1943 karya Chairil anwar)






“Karena Dosaku”


Malam yang sunyi

Bintang yang jadi saksi

Lahir Raja Mulia

Dalam kandang yang hina

Seiring tangis sang Raja kecil

Malaikat surga bergita surya

Riang wajah Bapak, Ibu si kecil

Karena dia telah lahir ke dunia

Ah………akankah saat indah itu akan terulang?

Disaat dunia hampir kepenuhan dosa

Disaat remaja dibuai surga dunia

Disaat aku tidak mau tahu

Oh…Tuhan

Sayup kudengar suaraMu





“Untuk itulah aku datang anakku”

Agar kamu yang terlena bangun kembali

Agar dunia yang mati hidup lagi

Agar engkau mau peduli

Terdengar olehku lagu Malam Kudus

Disenandungkan dengan hati yang tulus

Mengajak semua yang terlena

Ikut masuk dalam gereja

Aku tersungkur dipalunganMu Yesus

Kubawa hidupku agar jadi baru

Kuingin damai Natal bersenandung dihatiku

Dan kumelangkah dengan harapan baru
Karena Kau datang karena dosaku





“gadis selatan”


dalam belitan katun
serapuh bunga-bunga yang kau tawarkan
kau telah melebihi semua perempuan banal

kotamu. kau jaga mayat
mayat tetap hidup dalam hutan di kaki gunung
yang menjulang. menantang langit dan kematian

ularku; menggelibat dalam pasang
nafas tertahan dan menggelegak

kau tetap berjaga
saat lolongan serigala itu disayat kotamu
mayat-mayat tersadar dari tidur panjang

desisku; hari ini kau sudah
membunuh dirimu sendiri

tak ada bunga
seperti yang kuberikan pada nigeria
yang telanjang, menari di gerlap punggung

kotamu. tapi akan kukenangkan
tamparan dan mimpimu sebagai tanda
langit tak lagi beku oleh seringai serigala
hantu






“Ingat Aku”

Sebuah kartu yang tidak kubeli, tuliskan perasaan
padamu. Rasa kehilangan merupakan nyanyian pagi
yang dicuri, karena burung-burung ditembak mati

Koran menyimpan berita kehilangan, radio memasang
lagu usang -…i miss you like crazy-. Segila aku
yang merindu

Aku merindumu di koran teremas tuntas. Buang keteduhan
menjenguk buruk rupaku

Mamahlah aku dalam ejaan itu. Jangan halangi
huruf-huruf membentuk namaku
Ingat aku

yang mengejamu di lembar diktat tebal itu

Depok, Agustus 2000






“Jalan Penuh Kesulitan”

Syair Li Po

Anggur murni, mangkuk emas, sepuluh ribu keping seflagon,
Suguhan sedap pada piring pualam seharga jutaan koin
Kusisih saja ke tepi sumpit dan gelas, sebab tak berselera.
Kutarik pisau, kurenung empat jalan sia-sia.
Kuseberangi Sungai Kuning, tapi es mencekik kapal ferry;
Kudaki Gunung Tai-hang, tapi langit buta karena salju.
Atau duduk bertenang memancing, bermalasan –
Tapi tiba-tiba bermimpi perahu pacu, melaju ke matahari..
Perjalanan yang berat,
Perjalanan yang berat.
Banyak sekali petunjuk arah.
Mana yang harus kuikuti?
Sekali waktu nanti, kutunggangi saja angin dan menentang ganas gelombang
dan membentang layar berkabut lurus menembus ke dalam, laut yang dalam





“janji temu dalam mimpi”

selintas bayangmu hadir
mengurai kenangan
yang lama aku buang

tapi ada manis yang masih
aku jilati dari luka membusuk
tangis dan tawa
jiwaku mengambang

entah
kemana akan diterbangkan angin
dadaku sudah terlalu sarat luka

lantas kau melintas lagi
seperti dalam sekeping mimpi
kau korek luka di dasar hati






“kamera obskura”

kau datang lagi
mukamu bulan dan srigala
muakku sumbat serapahmu
masih menagih valium biru

aku bilang juga
habis barang, tinggal jenis baru
kau julurkan lidah berleleran
kujawab beberapa butiran

kautenggak habis de-de-te
kautentang iblis perlente
kau menggelenyar
saat acungkan tangan
aku mendengar
maut nembus jidatku
gelap






“kau bukan, bangsat”

kau tahu, bangsat
migrasi dari kampung busung
mendesak kota-kota dalam pingsan
hanya matahari menjelma lampu jalan
bulan bisu dan bintang mati pelahan
karnaval leler di lorong-lorong bangku

kau kenal, bangsat
semburat dari gelap bernama luka
nama jalan yang tak pernah lengkap
bergantung di udara selepas gebalau
mimpi yang kau layarkan, tiap malam
sajak darahku makin pesing dan cemas

kau eja, bangsat
sebagai serat yang sempat terlupa
binatang berlarian dari tubuh yang lepuh
tunggang langgang dalam sedotan maut
sambil kau ingat terus namanya hitam
dan aku adalah pohon tumbang
saat tanah membakar kota






“Ketika Bukan Aku, Itulah Aku”

Kataku akan kukisahkan dongeng hatiku sebaik bisaku;
Tapi air mataku terperangkap badai, hati berlumur darah.

Ah, aku gagal menceritakannya!
Kucoba mengingat pada saat kehancuran, membisu kata;
Gelas pikiran dan ingatanku, teramat mudah dipecahkan,
aku pun terhempas berkeping, seperti kaca dihancurkan.
Banyak kapal rusak terkurung dalam badai ini;
Apalah artinya perahu kecilku jika dibanding itu?

Gelombang merusakkan perahuku, tak ada yang tersisa;
Bebas dari diri sendiri, kuikatkan tubuhku di rakit.
Kini, aku takdi atas tak si bawah: Tergambarkan;
Seketika di atas ombak, lalu tersuruk ke bawah lagi.
Aku tak hirau keberadaan diri, hanya ini yang aku tahu:
Ketika aku, bukan aku; ketika bukan aku, itulah aku!

Diwani Shams Tabriz, 1419: 1-6
Jalaluddin Rumi, Judul dari HA






“Kidungku Bagi Rinduku”

nafas panjang kucerabut paksa
teramu sesal berbingkai tembang penggelar rasa
awalmula
senyum rembulan yang berkelakar dengan awan itu
malah menanting sembab berlarat-larat
mengapa,
kerinduanku musti terjerat kabut petaka
tlah kupilah-pilah segala
tiap bulir langkah
kini, nanti, esok hari, dan lusa
hingga yakin segala bakal terasa
tapi,
kidungan kelam malam
yang menjerat itu
pertanda
kasmaran kita haru biru







SUTARDJI CALZOUM BACHRI
“Kredo Puisi”Kata-kata bukanlah alat mengantarkan pengertian. Dia bukan seperti pipa yang menyalurkan air. Kata adalah pengertian itu sendiri. Dia bebas.

Kalau diumpamakan dengan kursi, kata adalah kursi itu sendiri dan bukan alat untuk duduk. Kalau diumpamakan dengan pisau, dia adalah pisau itu sendiri dan bukan alat untuk memotong atau menikam.

Dalam kesehari-harian kata cenderung dipergunakan sebagai alat untuk menyampaikan pengertian. Dianggap sebagai pesuruh untuk menyampaikan pengertian. Dan dilupakan kedudukannya yang merdeka sebagai pengertian.

Dalam puisi saya, saya bebaskan kata-kata dari tradisi lapuk yang membelenggunya seperti kamus dan penjajahan-penjajahan lain seperti moral kata yang dibebankan masyarakat pada kata tertentu dengan dianggap kotor(obscene) serta penjajahan gramatika.

Bila kata dibebaskan, kreatifitaspun dimungkinkan. Karena kata-kata bisa menciptakan dirinya sendiri, bermain dengan dirinya sendiri, dan menentukan kemauan dirinya sendiri. Pendadakan yang kreatif bisa timbul, karena kata yang biasanya dianggap berfungsi sebagai penyalur pengertian, tiba-tiba, karena kebebasannya bisa menyungsang terhadap fungsinya. Maka timbullah hal-hal yang tak terduga sebelumnya, yang kreatif.

Dalam (penciptaan) puisi saya, kata-kata saya biarkan bebas. dalam gairahnya karena telah menemukan kebebasan, kata-kata meloncat-loncat dan menari diatas kertas, mabuk dan menelanjangi dirinya sendiri, mundar-mandir dan berkali-kali menunjukkan muka dan belakangnya yang mungkin sama atau tak sama, membelah dirinya dengan bebas, menyatukan dirinya sendiri dengan yang lain untuk memperkuat dirinya, membalik atau menyungsangkan sendiri dirinya dengan bebas, saling bertentangan sendiri satu sama lainnya karena mereka bebas berbuat semaunya atau bila perlu membunuh dirinya sebdiri untuk menunjukkan dirinya bisa menolak dan berontak terhadap pengertian yang ingin dibebankan kepadanya.

Sebagai penyair saya hanya menjaga–sepanjang tidak mengganggu kebebasannya– agar kehadirannya yang bebas sebagai pembentuk pengertiannya sendiri, bisa mendapatkan aksentuasi yang maksimal.

Menulis puisi bagi saya adalah membebaskan kata-kata, yang berarti mengembalikan kata pada awal mulanya. Pada mulanya adalah Kata.

Dan kata pertama adalah mantera. Maka menulis puisi bagi saya adalah mengembalikan kata kepada mantera.






“Ku Tatap Pelangi Dari Balik Terali Besi”

Ingin ku tanggalkan dunia yang sesak
Dimana polusi dan bau mulut manusia
Telah menjadi racun besar di dalam jiwa

Lalu saja ku terperangah.
Ketika mataku menatap lukisan warna warni
Yang ku tahu………
Ia adalah hadiah dari Pemilik Jagat Raya untuk sang
langit
Yang baru saja menunaikan tugasnya.. memandikan bumi

Di balik terali, ku terhenyak
Dan bertanya ,
Dapatkah kiranya diri ku bermain disana ?
Walau hanya sekejap rasa ?!?!?!?!

Namun,
Setelah beberapa waktu ku tunggu
Ternyata ..jawaban itu tak ada

Mungkin saat ini ..sang langit sedang tak ingin
berbicara
Mungkin saat ini ..sang langit sedang ter’tidur
nyenyak

Atau mungkin,
Saat ini sang langit tak menginginkan aku berada
disana

Hingga diri ini hanya dapat terdiam
Menyaksikan mu . dari balik terali besi
Dengan mata yang berkaca - kaca !






“kupu-kupu kecilku”

tak adakah lagi waktu untukku
atau sedang begitu khusyuk
merenda gaun pengatin putihmu
menyulam benang demi benang
bingkisan terindah bagi suamimu

aku hanya mata yang buta dan cemburu
menangis dalam malam yang lapar
haus akan kasihmu
kelembutanmu tak mungkin
kulupa. jika pun bisa
yang kulakukan hanya membunuh
kesunyian ini dengan tanda-tanda luka
di baris tembok merah atau berlin sana
pada lorong-lorong gelap
dimana matahari adalah impian para peziarah
dan gedung-gedung tinggi jadi selimut kabut

dengan darah dan nanah
leleh pada tanah yang merah
menciumi tiap suara poster
yang sembunyi dari panas, hujan, debu
dan vandalisme

aku melolong
mengais sepi
demi seliup pertemuan
paling tipis pun
aku mengerak, aku melembur raga
kupecah lima agar engkau tahu
semuanya hanya untukmu

dada yang buram
untuk kasih yang tak pernah
lengkap pahami tiap bulir rima
dari geliatku ketika pagi datang
kau seduhkan kopi, tapi bukan aku
dan saat terbangun aku hanya ngungun
adakah aku baru bermimpi jadi belalang
atau belalang yang sedang mimpi
tentang kasihmu, menjelma manusia
aku meregukmu lebih dari yang kumau






“Malam dan Kamu”

Malam belum cukup tua
Kau raih lembut tanganku
Melangkah perlahan
Mengikuti alunan air sepanjang Riverside

Tak peduli pada keramaian
Teriak burung camar dan debur riak yang pecah
di sudut-sudut rivercab biru itu
membentuk sebuah instrumen indah yang syahdu
Mengiringi langkah kita perlahan

Gemuruh air menggelitik seluruh dinding cintaku
Angin pun mulai menusuk-nusuk sendi
Kubersandar di sisi lenganmu
“Dingin….”Kamu tersenyum
Mengecup keningku lembut
Dan hangatmu membias ke dalam tubuhku

Malam belum terlalu tua
dan kamu…
tak pernah usai memberiku cinta…

–Riverside Point, May 19th 2000






“mayat bunga”

aku tak butuh lagi bunga
atau hantu dari kampungmu
biar kukirim laknat dari rumah
kukenali nama yang lewat
dan sejarah tanpa tanda

kau menjelma kecoa atau ikan
kematian adalah pesta kesunyian
mayat hanyut di dasar arus
selamatanmu yang jumawa
: ada yang mati hari ini, anjing

kau tak perlu lagi sibuk
waktu kematianku lewat






“mayatmu banal”


seperti anjing yang jilati tai sendiri
aku kembali tafakur di bawah sudut
mayatmu, mengambang jadi mambang
melesat ke puting langit dan menari
sendiri

tak bisakah sejenak kau tandai arah
angin dengan matahari. tujuh bintang
berjaga di utara. gubug para pemabuk
di selatan. ratu kecantikan itu di timur
mestikah kusulut tarian anginmu
dengan senyumku di bibirmu

kemana saja kau
setelah tak sanggup salami
tubuhmu, mustikah tak kusapa kersik
malam makin sekarat di bawah lindap
bayangmu. seperti kanak-kanak babi
aku berkubang sehabis mandi






“MEMORY LOVE 8 MAY 2005″

BATAM Siang dan Malam

By:Part life of LOVE’

Ketika sesuatu terjadi dua hati yang berbada

SEBUT aja

Belahan hati….tapi Cuma keindahan sesaat

Tapi gue tau maknanya?????

Sayang saya cinta kamu

Aku suka kamu

Apa yang di hatiku kamu bias rasakan……saat kehilangan

Benda bernyawa yaitu kamu Agnes saat kepingi bibir

Hembusan nafas dan bagian manis bibirmu gue ngak bias lupa karena kamu terlalu

Indah apakah aku bisa jangkau dirimu disaat gue butuh tawa dan candamu







“Menuju Kemabukan “
(: Teguh_ih)

tiba-tiba saja aku ingin mengenang
dunia candu, memabukkan nadi.
membangkitkan syahwat kekalahan
manusia, sembari memanggili nama
asmara yang pernah kau titipkan
pada keraguan angin. hanya deru
pilu menampar jendela, pintu
terketuk desis angan
yang bebas berdesir bersama
rintih alang-alang. melepas janji
sabana diantara dosa-dosa udara
yang hanya mampu mencatat
keperihan angkasa dalam kefanaan
tanpa berbatas. duka tak terperi
mengalunkan perih tiada bertepi
menyimpan dendam bersunyi
mendera perjalanan nasib.

aku seperti terus saja
meneguk arak memabukkan
menghujam-hujam gelas meradang
tenggorokan. sementara botol-botol
yang pernah kau sodorkan menjadi
mata air yang bergelinjang
menderit, hingga pecah biografi kita
mengalirkan beling yang sama-sama
menciptakan luka
pada keterhamburan sejarah.
”aku titipkan benih-benih
simalakama kepadamu,”
kembali jerit abadimu menyeret
gerimis memasuki benak mendungku
kesia-siaan itu menjelma hujan

Manggar Malangi, Juli 1999








“PUISI”dari Teguh_ih

1

berpaling lagi aku
menggapaigapai menjauh
menguap setapaksetapak
memasang tabir gelap menjadi
b a t u
arang gulita pun ditabur menyala
singgasana kebodohan digelar menjadi

2

gundah gulana entah karena apa

mencoba menyerapi segala
tak tak ada yang terserap
semua menguap

aku sadar
aku berpaling
hingga kapan?

aku

kebodohan adalah aku
kekhlilafan adalah aku

aku bukan siapasiapa
siapasiapa pun bukan aku

aku yang hidup tergantung
di tangan gaib yang agung
dibolakbalik aku

ketika di bawah
itulah aku
ketika di atas
tak ada aku







teguh_ih”Raga yang Terpendam “Oleh: teguh_ih

Saat insan bersemi
Satu raga tak hengkang dari tunasnya
Menatap, menunggu, memendam
Laun lambatnya tak berarah
Hanya detak kesunyian teriring dalam kalbunya
Hening tak berasa dalam kosong tak bernyawa.

Umpatan, ratapan mengalun seiring insan hati terkoyak
Sang raga tak bergeming, mengkerdil tak berupa
Kesendirian kadang tak berasa hanya larva kepedihan mengundang keterpurukan
Hanya rempah kerontang menyebar tak berujud
Mengkais harapan tuk tumbuh tak berujung.

Ketika Sangkakala bertutur, raga laun mendongak
Menyapu rempah kerontang, meranggas
Semi itu berakar, tunas pun merangkak
Akankah ini jejak keibaan atau kelahiran raga
Mengharap mengais… raga dalam rintihnya, mendongak
Mencari air mata ketentraman dalam kepedihan raga yang terpendam.

Malang, malam… 2002







“RASA INI”

Pernah kurasakan tangan-tangan cinta mengelusku
Dan membuaiku sampai ke puncak cita
Pernah pula kurasakan bunga-bunga indah
Menari-nari dalam kalbuku
Sambil mendendangkan lagu-lagu mimpi
Tapi, pernah pula kurasakan
Jari-jari cinta itu mengoyak dan mengupas merahnya relungku
Membuatku lumpuh dan tersayat
Andai kutahu cinta ini akan mengocokku
Dan menghujamkanku sampai ke dasar mimipiku
Takkan pernah kubiarkan hati ini memerah
Takkan pernah kubiarkan hasratku menggapai
Andai aku mempunyai keteguhan
Akan kuikat tarian yang mengikat panggung hatiku ini
Akan kubunuh lagu-lagu mimpi yang meneriakkan anganku
Dan takkan kubiarkan rasa ini meretakkan gelas rapuh hatiku






“ritus bulan “

aku tak pernah tahu berapa lama engkau singgah disini
tapi iramamu serupa detak jam dinding yang kuhapal
dentingnya pada pusara matahari dan ritus rembulan

senja yang larut pada laut
melukis samar wajahmu lewat terjal karang
sedang camar pulang ke sarang merajut mimpi
atas rindu ibu

perjalanan ini kekasih
telah kulewati dengan kaki pincang dan luka di dada kiri
menggoreskan tanda merah pada batubatu, pepohonan
dan tanah basah. sedang angin sudah sejak lama
membawa amis darah ke setiap penjuru

di belantara mana kita akan bertemu?
sebab aku mulai letih menghitung rasi, membaca cuaca,
menentukan musim bagi para pecinta yang berziarah
di kuilkuil para dewa.






“Roh” Chairil Anwar Masih Hidup

Aku mau hidup seribu tahun lagi dalam kalimat terakhir puisi Aku yang ditulis almarhum Chairil Anwar yang waktu itu berusia 21 tahun sebenarnya bukan ogah-ogahan menentang takdir, tetapi pertanda semangat karyanya yang tidak pernah padam. Puisi-puisi Chairil Anwar yang pertama kali dihembuskan kritikus sastra/pemerhati sastra HB Jassin (almarhum), selalu merasuk dalam dunia sastra, khususnya puisi.

Penyair kondang WS Rendra yang belum pernah tampil membacakan puisi orang lain, untuk pertama kalinya tampil dalam acara pembacaan tunggal Membaca Chairil Anwar di Pusat Kebudayaan Jakarta - Taman Ismail Marzuki (TIM), 27-29 April 1996, dalam kaitan peringatan 46 tahun berpulangnya pelopor Angkatan 45 Chairil Anwar (Deli, Medan 26 Juli 1922 - Jakarta 28 April l949).

Tentunya Rendra punya pertimbangan kenapa ia mau membacakan sajak Chairil. Diam-diam sejak remaja, dramawan itu sangat mengagumi sajak Chairil Anwar karena struktur sajaknya kuat sekali. Sajaknya ada kebebasan, ada lagu dan irama. Liriknya mengandung pemberontakan pada nilai individu.

Diakui Rendra, ibunya hanya mengagumi sajak Chairil Anwar dan Amir Hamzah. Untuk lebih mengenal Chairil lebih jauh, diam-diam Rendra pernah melakukan riset tentang kehidupan Chairil Anwar. Maka tak heran “roh” Chairil yang sudah melekat dalam diri Rendra, ketika tampil pentas di TIM yang ditata dalam suasana mencekam itu, Rendra merasakan “maut” di atas panggung. Awalnya skenarionya ingin menampilkan kronologis tentang kisah Chairil Anwar, tetapi dalam kenyataan proses yang muncul berbeda. Rendra lebih terseret pada “roh” Chairil Anwar, sehingga acara membaca sajak Chairil Anwar itu sebagai silaturahmi dengan “roh” Chairil Anwar.

***

Penterjemah lebih dari 50 buku sastra, terutama puisi Indonesia dan Malayasia - Harry Aveling (60) mengaku puisi Chairil Anwar itu sebetulnya banyak gizinya.”Tidak gemuk tetapi kurus tetapi kuat dan tiap-tiap kata ada makna tersendiri, luar biasa kalau dibandingkan dengan puisi sebelum dia,” penulis antologi puisi Indonesia Secret Need Words yang baru diluncurkan belum lama ini.

Menurut penerima Anugerah Pengembangan Sastra di Kuala Lumpur (l991) itu, puisi Chairil Anwar masih up to date. “Yang penting jiwanya itu masih hidup dengan perasaan, cinta, dan kekecewaannya dan segalanya yang mewakili jiwa manusia. Semangat keakuan aku ingin tahu siapa aku,” ujar dosen Universitas La Trobe Australia itu ditemui sekitar awal April 2002 di Jakarta.

Ia ke Indonesia dalam rangka libur Paskah, di samping mengikuti festival puisi internasional di Makassar belum lama ini.

Sajak Chairil Anwar tidak hanya menjadi inspirasi para penyair, tetapi juga dalam lukisan seperti yang pernah ditampilkan Hardi dalam pameran tunggalnya di Jakarta sekitar Maret 2002 lalu. Ada dua puisi Chairil Anwar yang mengilhami pelukis yang cukup vokal, yaitu Isa dan Cintaku Jauh Di Pulau.

***

Membicarakan Chairil Anwar, memang tidak bisa dilupakan “promotornya” HB Jassin yang dengan setia mendokumentasi sajak-sajak Chairil Anwar, baik yang pernah dimuat maupun yang ditolak karena alasan politis waktu itu atau karena dinilai jelek.

Konon Chairil Anwar pernah marah dengan HB Jassin karena sajaknya dikritik HB Jassin dalam majalah Mimbar Indonesia di mana ia sebagai redaksinya. Bahkan mereka sempat adu otot di belakang layar Gedung Kesenian Jakarta sekitar awal 1949. Waktu itu HB Jassin siap naik pentas sandiwara Api (sutradara Usmar Ismail).

Dalam buku HB Jassin “Tifa Penyair dan Daerahnya” (Malaysia Publishing House LTD, Singapura, 1968), menulis di tahun 1943 kesusasteraan Indonesia dikejutkan oleh penyair muda, Chairil Anwar. Dia seperti bom yang meletus di tengah-tengah ketenangan.

Sajak-sajaknya baik bentuk maupun isinya revolusioner, membawa perubahan sekali gus. Tentang bentuk dan iramanya jauh dari pantun, syair, soneta ataupun sajak bebas Pujangga Baru. Isinya seperti dinamo berisi listrik. HB Jassin memberi contoh salah satu sajaknya adalah Aku (Maret 1943).

Terlepas dari sajak revolusioner dalam bentuk dan isi, yang disebut HB Jassin membawa aliran ekspressionisme itu, Chairil juga menulis sajak-sajak bernuansa impresif untuk mengungkapkan kepekaannya terhadap perempuan. Gender perempuan pun turut mengilhami Chairil Anwar menulis sajak atau puisi.

Sebelum melahirkan sajak yang serius, menurut HB Jassin Chairil yang kutu buku itu beberapa kali mencorat-coret sajak, tetapi karena kurang puas lalu dibuang.

Tercatat sajak perdananya Nisan (Oktober 1942) ditujukan untuk nenek anda (almarhumah neneknya).

Bukan kematian benar nenusuk kalbu
Keridlaanmu menerima segala tiba
Tak kutahu setinggi itu atas debu
dan duka maha tuan bertakhta

***

Ibarat harimau mati meninggalkan belang, nama Chairil Anwar tidak pernah tenggelam baik dalam pecaturan sastra, maupun dalam globalisasi zaman. HB Jassin pernah menyebut bahwa Chairil Anwar masih “hidup” lewat sajak-sajaknya.

Meskipun di zaman Orde Lama (l964-l965) sajak Chairil Anwar pernah dilarang untuk diajarkan di sekolah-sekolah dan perguruan tinggi atas “move” oleh Lembaga Kebudayaan Rakyat (Lekra). Alasan sajak Chairil diganyang oleh partai yang berafiliasi pada Partai Komunis Indonesia (PKI) itu, karena Chairil Anwar dianggap sebagai penyair individualistis yang tidak bertanggung jawab dengan perjuangan rakyat.

Ternyata anggapan partai yang sudah di blacklist itu sebenarnya sangat keliru. Padahal sepanjang masa sajak-sajak Chairil Anwar selalu menjadi topik hangat yang tidak hanya dibicarakan di tanah air sendiri, juga di manca negara.

Belum lagi sajak Chairil ini sebagai bahan untuk membuat skripsi, atau tesis. Novelis Idrus (alm) pernah membuat dua skripsi (tesis) untuk memperoleh gelar doktor di Australia.

Penyair kondang Sutardji Calzoum Bachri pun terkesan dengan sajak Chairil Anwar antara lain Derai-derai Cemara. Menurut pengamatan penerima tropi Anugerah Sastra Chairil Anwar Dewan Kesenian Jakarta itu (l997-l99 8) itu hingga sekarang masih banyak orang menyair karena inspirasi sajak Chairil.

***

Chairil Anwar berasal dari keluarga broken home. Sehingga membuat hidupnya luntang - lantung dan penuh petualangan. Ia pernah mengalami kesendirian, namun dalam suasana itu ia membutuhkan perempuan sebagai kawannya, bahkan ia merindukan seorang ibu seperti ditulis dalam puisinya Sendiri (Februari 1943)…. Ia membenci. Dirinya dari segala/. Yang minta perempuan untuk kawannya.

Sejak mulai mencorat-coret sajak hingga akhir hayatnya, bayang-bayang perempuan sering mengilhami sajaknya, meskipun ia sudah berkeluarga. Chairil menikah 6 September 1946 dengan Hapsah Wiradiredja dengan membuahkan keturunan seorang putri yang bernama Evawani Alissa Chairil Anwar.

Menurut HB Jassin sajak ini pernah dituduh ada pengaruhnya dengan sajak-sajak Hendrik de Vries dalam Atlantiche Balladen.

Terlepas dari tuduhan itu, HB Jassin mengatakan tidak kurang hebatnya tenaga yang terkandung dalam sajak tersebut. Jika Pattirajawane mau dilihat sebagai perlambang jiwa Indonesia yang kuat, liat, segar, yang sanggup “hidup seribu tahun lagi”. Puisi-puisi Chairil juga menggambarkan suasana hati yang sepi dalam kesunyian. Antara lain

Senja di Pelabuhan Kecil. Ini kali tidak ada yang mencari cinta/di antara gudang, rumah tua, pada cerita/tiang serta temali. Kapal, perahu tiada berlaut/menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut// Gerimis mempercepat kelam. Ada juga kelepak elang/ menyinggung muram, desir hari lari berenang/menemu bujuk pangkal akanan. Tidak bergerak/ dan kini tanah dan air tidur hilang ombak.// Tiada lagi/. Aku sendiri./ Berjalan/menyisir semenanjung, masih pengap harap/sekali tiba di ujung dan sekalian selamat jalan/dari pantai keempat, sedu penghabisan bisa terdekap.

Dalam buku “Gema Tanah Air” 2 (Balai Pustaka) karangan HB Jassin, sajak ini berjudul Kabar Dari Laut dan pernah dimuat dalam majalah Panca Raya, Tahun II No.5, 15 Januari 1947.

Selain puisi, prosa juga mengilhami semangat Chairil Anwar seperti dalam “Pidato Chairil Anwar 1943″ yang diucapkan di depan Angkatan baru Pusat Kebudayaan pada tanggal 7 Juli 1948 (Derai-derai Cemara- Horison, 1999). (Susianna)








“SAIR HIDUPKU?”Teguh_ih

Bingakaian kasih di taman hati,
Bunga menyebar harum mewangi,
Mentari selalu setia meninari,
Alami merekah bunga bersemi,

Dunia tersenyum jadikan saksi,
Tapak waktu pun bergeser ke hari,
Bayangan hitam takutkan insani,
Kala surya tinggalkan dumi.

Bumi sendiri laksana malam,
Langit hitam tertutup awan,
Angin bertiup sinarkan kegelapan,
Bumi berharap pagi kan datang.

Malang, 13th January 1996







“SAJAK BULAN MEI 1998 DI INDONESIA”W.S. Rendra

Aku tulis sajak ini di bulan gelap raja-raja
Bangkai-bangkai tergeletak lengket di aspal jalan
Amarah merajalela tanpa alamat
Kelakuan muncul dari sampah kehidupan
Pikiran kusut membentur simpul-simpul sejarah

O, zaman edan!
O, malam kelam pikiran insan!
Koyak moyak sudah keteduhan tenda kepercayaan
Kitab undang-undang tergeletak di selokan
Kepastian hidup terhuyung-huyung dalam comberan

O, tatawarna fatamorgana kekuasaan!
O, sihir berkilauan dari mahkota raja-raja!
Dari sejak zaman Ibrahim dan Musa
Allah selalu mengingatkan
bahwa hukum harus lebih tinggi
dari ketinggian para politisi, raja-raja, dan tentara

O, kebingungan yang muncul dari kabut ketakutan!
O, rasa putus asa yang terbentur sangkur!
Berhentilah mencari Ratu Adil!
Ratu Adil itu tidak ada. Ratu Adil itu tipu daya!
Apa yang harus kita tegakkan bersama
adalah Hukum Adil
Hukum Adil adalah bintang pedoman di dalam prahara

Bau anyir darah yang kini memenuhi udara
menjadi saksi yang akan berkata:
Apabila pemerintah sudah menjarah Daulat Rakyat
apabila cukong-cukong sudah menjarah ekonomi bangsa
apabila aparat keamanan sudah menjarah keamanan
maka rakyat yang tertekan akan mencontoh penguasa
lalu menjadi penjarah di pasar dan jalan raya

Wahai, penguasa dunia yang fana!
Wahai, jiwa yang tertenung sihir tahta!
Apakah masih buta dan tuli di dalam hati?
Apakah masih akan menipu diri sendiri?
Apabila saran akal sehat kamu remehkan
berarti pintu untuk pikiran-pikiran kalap
yang akan muncul dari sudut-sudut gelap
telah kamu bukakan!

Cadar kabut duka cita menutup wajah Ibu Pertiwi
Airmata mengalir dari sajakku ini.


Sajak ini dibuat di Jakarta pada tanggal 17 Mei 1998 dan
dibacakan Rendra di DPR pada tanggal 18 Mei 1998







“sajak jiwa dendam”


kurendam dendam
kupendam tak padam
[le, urip iku mung bebasan
mampir ngombe.
hidup itu cuma sebentar.
jadilah manusia yang jembar ati
lan semeleh]
ayahku selalu wanti-wanti
aku bilang inggih pak, inggih pak
kurendam dendam
kupendam tak padam
oh gusti, nyuwun ngapura
sampai kutemukan dendamku
untuk mencabik alam murka
demi kutemukan rahasia-rahasia
tentang dendam
sampai batas
kerasukan iman
——————-










“SAJAK SEORANG TUA UNTUK ISTERINYA”


Aku tulis sajak ini
untuk menghibur hatimu
Sementara kau kenangkan encokmu
kenangkanlah pula masa remaja kita yang gemilang
Dan juga masa depan kita
yang hampir rampung
dan dengan lega akan kita lunaskan.

Kita tidaklah sendiri
dan terasing dengan nasib kita
Kerna soalnya adalah hukum sejarah kehidupan.
Suka duka kita bukanlah istimewa
kerna setiap orang mengalaminya.

Hidup tidaklah untuk mengeluh dan mengaduh
Hidup adalah untuk mengolah hidup
bekerja membalik tanah
memasuki rahasia langit dan samodra,
serta mencipta dan mengukir dunia.
Kita menyandang tugas,
kerna tugas adalah tugas.
Bukannya demi sorga atau neraka.
Tetapi demi kehormatan seorang manusia.

Kerna sesungguhnyalah kita bukan debu
meski kita telah reyot, tua renta dan kelabu.
Kita adalah kepribadian
dan harga kita adalah kehormatan kita.
Tolehlah lagi ke belakang
ke masa silam yang tak seorangpun kuasa menghapusnya.

Lihatlah betapa tahun-tahun kita penuh warna.
Sembilan puluh tahun yang dibelai napas kita.
Sembilan puluh tahun yang selalu bangkit
melewatkan tahun-tahun lama yang porak poranda.
Dan kenangkanlah pula
bagaimana kita dahulu tersenyum senantiasa
menghadapi langit dan bumi, dan juga nasib kita.

Kita tersenyum bukanlah kerna bersandiwara.
Bukan kerna senyuman adalah suatu kedok.
Tetapi kerna senyuman adalah suatu sikap.
Sikap kita untuk Tuhan, manusia sesama,
nasib, dan kehidupan.






“Salahkah aku karena merindukanmu”

salahkah aku karena merindukanmu
aku di sini.
sendiri.
sepi.
bahkan angin malam pun enggan mendekati.
kucari-cari bayangmu dalam gelap.
tak ada.
desah nafasmu pun tiada.
aku semakin sendiri.
sementara rindu kian menggores di hati.
salahkah aku karena merasakan ini.
aku sadar telah terlelap dalam mimpi.
dan aku tetap sendiri.
kuharapkan kembali mendengar senandungmu di malam hari.
menggelitik telingaku. mengayunkan imajinasi.
indah.
syahdu.
sampai aku tersentak.
itu semua cuma ilusi.
salahkah aku karena menikmati ini.
tapi aku yakin diri.
satu hari kamu pasti kembali menemani.

Jakarta, 29799







“SANG KEPARAT”

karang - karang menacap tajam
oleskan mimpi kelam
sisakan kebebasan berjeruji
meski hati terbalut keji

saat ketapel mesiu menghantam
iringi nyanyian malam
kelopak senapan datang
butiran panas menghadang

kedipan bulan makin temaram
seolah sadar bisikan setan
lolongan darah menentang kelam
derapkan langkat berseragam

tiba - itba
buliran hening terenggut kejam
hiraukan angin tersedu sedan
todongkan panas membara
luapkan sumpah serapah

jantung - jantung putih dikebiri
perut - perut lapar tercabik berang
luka - luka kalbu letih menganga
borok - borok lalat mati berdiri

wahai sang laknat,
tak adakah kerling menyapa ?
tak adakah hasrat menegur lara ?
meski dalam jiwa baja ?

teriakan pilu,
jeritan kelu,
dendam memburu
menggugat sang keparat







“Sebentar lagi”

tidurlah manis
lelaplah dalam dinginnya malam
yang menguak langit dalam gelap
selimuti mimpi dalam buaian lembut doaku….

pejamkan matamu manis
biarkan rindumu menyatu dalam darahku
mengisi seluruh rongga dalam hatiku
sementara pagi berkemas menyambut hari baru

tidurlah manis
sebentar lagi kita bertemu

November 3, 2003







“Sepotong Batam”

pasar sayur
masjid di komplek perumahan
pangkalan ojek
jembatan pejalan kaki
lapangan golf
hutan lindung
taman di lembah jalan
dam Seiladi
pura di atas bukit
keluar masuk kendaraan proyek
rawa bakau diuruk:
perguruan tinggi
lampu merah
rumah duka marga tionghoa
di seberangnya sekolah kejuruan
lalu sebuah perumahan
hotel di puncak bukit
simpang jam
rumah sakit
ada juga pasar malam
di sebelahnya plaza internasional
lalu kedai masakan minang

adakah yang mau tahu,
rumah-rumah liar itu, dimana

0 Comments:

Post a Comment